RSS

Pengusaha vs Pegawai

13 Mar

Cerita 1

Kisah sukses seorang “Limi” menjadi pengusaha

Lewat kerja keras dan keuletan, M. Alimin yang kemudian dikenal dengan nama Limi sukses menjadi pengusaha stiker dan warung variasi sepeda motor ataupun mobil lengkap dengan berbagai accesorisnya. Ia merintis usahanya dari berdagang stiker kecil-kecilan di sebuah alun-alun pada waktu itu. Kini bisnisnya sudah menggurita,sudah mulai diketahui oleh banyak orang terutama anak muda.

Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Limi, pengusaha asal Slawi, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama ini kini membuahkan hasil. usaha stikernya, kini menjelma menjadi sebuah bisnis dengan 3-5 karyawan.

Limi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan SMA nya ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan.

Merintis sukses dari berdagang sticker

Simak saja kisahnya. Limi adalah sesosok anak muda  yang merintis usahanya mulai dari nol. Ia berjualan stiker kecil-kecilan disebuah alun-alun yang setiap hujan turun selalu tutup . maklum saja lapaknya itu hanya sebuah tambang yang direntanngkan untuk mengaitkan stiker-stiker tersebut.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah akhirnya ia dapat mengontrak sebuah tempat dari hasil yang ia kumpulkan selama ia menekuni usaha kecil-kecilannya itu. Tempat tersebut agaknya memang cukup strategis karena letaknya di pinggir jalan raya yang sering dilewati banyak orang.
Maka, Limi mulai menekuni  usaha dagang stikernya itu di tempat barunya yaitu sebuah toko yang kemudian diberi nama “LIMITED STICKER”  dengan modal awal yang cukup minim. Modal ini ia kumpulkan dari  usahanya berjualan sticker di alun-alun itu.

Guratan sukses Limi tampaknya memang sudah terukir di stiker. Sebab, jerih payahnya berjualan stiker tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan pembuatan sticker dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah  sekelompok anak sekolah yang ingin membuat sticker untuk kelasnya.

Bisnis Limi pun  tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai mengembangkan bisnisnya dengan menambahkan variasi motor ataupun mobil yang tentunya meraup keuntungan yang semakin besar.

Alhasil, berjayalah Limited Stiker itu, yang kini menjadi tempat cutting stiker dan variasi yang cukup terkenal di kota Slawi.

Sepak terjang Limi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun bisnis  itu saat usianya masih terbilang muda sekitar 24 tahun.

Limi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran orang tuanya yang selalu memberikan semangat untuknya.

Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Ia sekarang sudah bisa memiliki sebuah mobil sendiri dan sudah bisa memperbaiki rumah orangtuanya dari hasil ia usaha cutting sticker dan variasi moto dan mobil. Toh, ia tak lantas puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Limi  juga tak lantas bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Toko nya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu jalan utama pantura di jalan Prof. Moh. Yamin Slawi , Tegal atau berada tepat di depan SMA Negeri  3 Slawi. Toh, dari kota kecil inilah Limi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.

 

Cerita 2

Kisah sukses Ibu Setyaningsih seorang guru sebuah SMA

 

Setyaningsih, S.Pd. , atau lebih dikenal dengan bu Set adalah seorang istri sekaligus seorang guru dari sebuah SMA negeri terkenal di Slawi. Beliau mempunyai 3 orang anak dan 1 suami yaitu bapak Sumanto, S.Pd., yang secara kebetulan beliau juga seorang guru di SMA yang sama.

Sebagai seorang istri bu setyaningsih tidak melupakan kewajibannya sebagi seorang ibu dari 3 anaknya tersebut. Ia selalu mementingkan pendidikan bagi ketiga anaknya.

Gaji seorang PNS dulu mungkin tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sekeluarga. Hingga pada suatu saat timbul ide bu setyaningsih untuk membuka les di rumahnya yang waktu itu masih cukup sederhana.

Les kecil-kecilan itu ia mulai setelah ia selesai mengajar di sekolah. Banyak dari murid-muridnya yang ikud les pelajaran di tempat beliau.

Pada waktu itu beliau hanya seorang diri mengajar murid-muridnya untuk 1 pelajaran saja. Namun setelah agak lama suaminya, bapak Sumanto ikut ambil bagian dalam usaha les pelajaran tersebut.

Sekarang murid-muridnya semakin bertambah. Dari yang tadinya hanya 5-10 orang kini sudah lebih dari 10 orang yang tentunya dengan jadwal yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Kini beliau juga menyewakan rumahnya untuk guru lain yang akan memberikan les pelajaran di tempatnya.

Ternyata tidak salah keputusan bu setyaningsih untuk membuka les pelajaran tersebut. Dari bisnis les nya tersebut, ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih dari hanya menjadi seorang guru di sekolah saja. Sekarang ia sudah bisa menikmati hasil jerih payahnya tersebut yang ia lakukan selama beberapa tahun.

Dari hasil tersebut sekarang beliau memiliki sebuah rumah yang cukup layak dan sebuah mobil. Walaupun beliau kini sudah berkecukupan beliau tetap ramah tamah kepada siapa saja.

Dan bisnis les nya tersebut hingga saat ini masih tetap berjalan.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari kedua cerita diatas :

Ø  Untuk mencoba segala sesuatunya kita tidak boleh ragu-ragu

Ø  Harus selalu berusaha merubah nasib karena itu semua tergantung pada diri kita

Ø  Berani susah

Ø  Tidak sombong ketika kita sudah mencapai kesuksesan

Ø  Harus punya kepercayaan diri bahwa kita bisa melakukan yang terbaik

Ø  Selalu bekerja keras untuk mencapi sesuatu

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 13, 2011 in Technopreneuship

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: